Minggu, 26 Juli 2020

Keterlambatan yang Menyelamatkan

Keterlambatan yang Menyelamatkan

 

Oleh : Herlin Variani,S.Pd.

Guru SDN 11 Padang Sibusuk

 

Ahad pagi yang diiringi gerimis menciptakan butiran mutiara-mutiara kecil dirambut setiap insan yang disinggahinya. Suasana liburan dan dinginnya pagi sangat mendukung hasrat mata yang mulai redup untuk kembali merebahkan tubuh dan siap bermalas-malasan di tempat tidur. Namun panggilan Allah yang selalu memanggil para pemuda untuk terus menorehkan tinta sejarah dengan pena emas dalam perjuangan ini membuat langkah kaki tetap digerakkan. Mata yang meredup dipaksa untuk terbuka lebar. Dengan tekad membaja langkah kaki menuruti perintah otak untuk segera menyambut panggilan mulia ini.

Langkah demi langkah yang tertata rapi mulai menuju tempat dan waktu yang telah kita janjikan untuk fastabikhul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Detik demi detik terus berlarian hingga jampun terkejar dan berlalu. Keberangkatan yang telah direncanakan dalam menyambut panggilan Allah molor hingga sembilan puluh menit hanya karena menunggu kehadiran seorang sahabat yang entah apa masalahnya. Kepastian dimana keberadaan yang bersangkutan berada tak didapatkan. Hanya sebuah pesan yang sampai bahwa yang bersangkutan akan ikut dan tak munkin ditinggalkan. Penyedia transportasi mulai menceracau sewot karena harus menunggu sekian lama. Sedangkan keberangkatan transportasi yang satu ini sudah diatur oleh perusahaannya dan ada dedlinenya yang tak dapat diganggu gugat. Semangat dan ribuan energi positif yang mendorong langkah kaki sejak bangun pagi hari mulai terusik. Hati yang begitu sumringah mulai digoda oleh ketidaknyamanan luar biasa.

Rasa keputusasaan mulai mengintai dan berbisik untuk meninggalkan yang bersangkutan. Kenapa langkah-langkah penuh tekad juang dan semangat muda ini harus terhalang atau dihiasi keterlambatan oleh satu orang yang informasinya tak didapat dengan jelas? Ketika sebuah keputusan yang sedikit diwarnai dengan emosi mulai berteriak untuk  meninggalkan sahabat yang satu ini, yang bersangkutan datang dengan langkah terburu-buru disertai sorot mata kecemasan dan rasa bersalah tentunya.

Rentetan kata maaf terurai dari pemilik wajah polos ini saat kami sudah duduk dalam armada yang siap membawa kami ke kota tujuan untuk menyambut panggilan Allah ini. Dalam suasana hening sesekali tetap terdengar ungkapan maaf dari sahabat yang terlambat ini kepada kami semua. Ungkapan maaf itu direspon dengan lembut sambil menganggukkan kepala dihiasi senyum dipaksakan yang terlahir dari hati yang diwarnai oleh kekesalan. Armada pun melaju dengan lancar tanpa rintangan walaupun air hujan turun tidak kompak telah membasahi sebagian jalan yang kami lewati.

Namun lancarnya perjalanan itu hanya berlaku lebih kurang tiga puluh menit saja. Armada yang ditumpangi tiba-tiba berhenti diringi pemandangan yang membuat mata sedikit tercengang. Armada-armada yang telah melaju kencang jauh sebelum kami berangkat terlihat berabaris rapi dihadapan kami. Kedua sisi jalan dipenuhi oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Tak satupun kendaraan yang melintas dihadapan kami dari arah berlawanan. Macet total. Ada apakah gerangan ? Belum  pertanyaan pertama terjawab terlihat sebuah truk kuning lalu lalang membawa tanah merah dan membuangnya ke sisi jalan di tepi jurang. Para penumpang dari kendaraan lainpun turun. Rasa penasaran memutuskan penulis untuk segera keluar juga dan bertanya.

“Longsor”.

Itu jawaban yang didapatkan. Terlihat dengan jelas tanah merah yang turun dari perbukitan sebelah kanan kami memenuhi jalan.

“Ya Rabb”.

 Inikah maksud yang ingin Engkau sampaikan kepada hati yang sempat berprasangka kepada sahabat seperjuangan kami. Andaikan langkah ini tak tertahan oleh sahabat yang telah terlambat, munkin kami akan kebosanan menunggu dalam waktu yang lama karena macet panjang. Lebih menakutkan lagi jika tadi berangkat lebih awal munkin tanah yang berjatuhan dari bukit menyapa armada yang kami tumpangi seperti yang pernah terjadi beberapa waktu silam yang memakan korban jiwa. Sepanjang jalan yang kami lewati di sebelah kirinya dihiasi oleh jurang yang kedalamannya puluhan meter dan sebelah kanannya dipagar oleh perbukitan yang menjulang tinggi. Setiap kali hujan turun jalan ini memang kerap memancing tanah yang menyatu membangun sebuah perbukitan ini untuk turun ke jalan bersama bebatuan yang telah lama bersemayam di bukit-bukit itu.

Sesaat kemudian suasana yang awalnya hening dan sedikit mencekam karena kaget  berubah riuh. Ucapan syukur dan Alhamdulillah serta terimakasih kepada saudara yang sudah terlambatpun berhamburan dari mulut kami. Besryukur karena keterlambatannya membuat kami terselamatkan dari marabahaya. Wajah-wajah yang awalnya ditekuk karena tersusupi rasa kesal dan kecemasan terlembat ketempat tujuan berubah menjadi sumringah dan tertawa kecil. Suasana berubah haru dan menyempatkan kami untuk selfie-selfie dengan back ground antrian panjang kenderaan dan lalu lalang truk mengangkut tanah yang turun ke jalan.

Sebuah pesan cinta hadir dari Sang Rahman yang sedikit menampar kami yang telah mengotori hati dengan prasangka dan kemarahan kepada sahabat sendiri. Tetaplah bersabar dalam menjalani takdir-takdir yang telah Allah tuliskan untuk kita jauh sebelum kita terlahir ke muka bumi ini. Sesuatu yang terlihat baik dalam pandangan mata manusia belum tentu itu baik. Begitupun sebaliknya. Kejadian yang menurut hati kita tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan keinginan hati boleh jadi itu cara Allah menyelamatkan hambaNYA dari marabahaya.

Hal-hal yang terjadi tak sesuai dengan keinginan dan harapan walaupun kita sudah berusaha maksimal sering mampir dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu jengkel apalagi patah semangat dengan kondisi seperti itu. Perlu kita ketahui kondisi-kondisi seperti ini merupakan cara Allah untuk menghindarkan kita dari marabahaya. Jadi berdamailah dengan keadaan.

Sebuah keterlambatan dan kelalaian apapun itu bukan satu hal yang dapat dibenarkan. Namun kewajiban kita sebagai makhluk Sang Pencipta hanya melakukan ikhtiar dan do’a terbaik dalam setiap langkah dan keputusan yang kita ambil. Hasil akhirnya itu sepenuhnya hak Allah yang menentukan. Manusia hanya berperan sebagai perencana dan berusaha. Hasil seutuhnya itu hak Allah.

Maka dari itu, setelah kita berusaha melakukan yang terbaik apapun hasilnya tetaplah berprasangka baik pada Sang Pencipta. Sangat mustahil Sang Pencipta menginginkan keburukan pada hamba yang telah diciptakan dengan penuh cinta dan kasih sayang.Wallahua’alam Bisawwab

 

NB : Alhamdulillah, muat di koran Singgalang ; 11 Desember 2017


Guru Sang Pengukir Peradaban

Guru Sang Pengukir Peradaban

 

Oleh : Herlin Variani,S.Pd.

Guru SDN 11 Padang Sibusuk

 

Saat mendengar kata guru, itu tidak terlepas dari kata murid atau siswa. Baik itu dalam ruang lingkup pendidikan formal maupun non formal. Kata guru terlahir karena ada kata murid. Guru dan murid merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Baik dari segi aktifitas, bahasa, dan sikap yang mereka miliki biasanya sejalan.

Guru akan selalu menjadi pedoman bagi murid-muridnya. Menjadi idola yang tak terungkapkan oleh lisan. Khususnya guru Sekolah dasar. Meraka bak malaikat dalam pandangan simurid. Kata-kata guru lebih sakti ketimbang perkataan orang tua kandungnya sendiri.

Tak peduli siguru ini bawahan orang tuanya sekalipun, simurid tetap beranggapan bahwa gurunyalah yang paling benar. Semuanya dikerjakan berdasarkan perkataan guru. Tak jarang dirumah mereka memberikan wejangan-wejangan pendek terhadap orang tuanya berdasarkan nasehat guru di sekolah.

Tingkah polah anak seperti ini kerap kali membuat orang tua cemburu. Guru orang yang baru saja dikenal dan ditemui langsung mencuri perhatian sianak. Langsung mendominasi posisi dihati anak. Tanpa peduli asal usul guru. Bahkan anak kadang menuntut orang tua mengikuti apapun yang disampaikan gurunya. Tak jarang mereka membandingkan orang tua dengan guru yang bak pelindung dan penyelamat ini.

Bagi guru sekolah dasar hal ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri yang tidak didapatkan oleh  banyak orang. Kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata serta tak dapat dibeli dengan uang. Namun demikian guru harus ekstra hati-hati. Walaupun guru dipandang sebagai manusia super oleh muridnya, jangan berhenti belajar. Belajar untuk terus menata bahasa dan memperbaiki lisan. Lisan yang tidak membawa luka dihati sipendengar. Lisan yang penuh hikmah dan pantas menjadi tuntunan. Lisan yang menyelamatkan perasaan dan memberikan ketenangan pada murid.

Lisan yang penuh muatan moral. Selain itu guru juga harus selalu belajar untuk memenej diri dan hati. Seburuk-buruknya suasana hati, tetaplah perlihatkan senyuman termanis penuh keihklasan yang terlahir dari hati yang tulus. Senyuman pelepas dahaga untuk simurid yang kehausan ditengah padang perjuangan menuntut ilmu. Tak perlulah murid tau apalagi merasakan tekanan saat guru memiliki persoalan besar bahkan munkin tekanan batin. Disinilah kedewasaan seorang guru akan terlihat. Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan sekolah.

Bahkan ada sebuah ungkapan yang mengatakan, harimau sekalipun yang ada dalam perut guru, tapi yang dikeluarkan dihadapan murid tetaplah kelinci nan cantik dan lucu. Karena anak-anak lebih menyukai kelinci ketimbang harimau yang buas dan mengancam keselamatan jiwa.

Apakah sikap semacam ini bentuk kemunafikkan dan penuh kepalsuan? Jawabannya tidak. Karena semuanya dilakukan dari hati dan penuh keikhlasan. Dipersembahkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Saat cinta sudah berbicara maka tak ada kepura-puraan disana. Seluruh yang dipersembahkan dipenuhi oleh energi murni. Energi-energi positif yang membawa kekuatan.

Ini bukan berarti menuntut guru harus menjadi manusia sempurna tanpa celah kekhilafan sama sekali. Namun guru penting untuk terus belajar menjadi lebih baik karena mereka akan menjadi tauladan dan pedoman untuk murid-murid mereka.

Khususnya guru sekolah dasar, murid mereka seperti kertas putih yang masih kosong. Apapun tingkah guru akan ditiru oleh murid yang menjadi peniru ulung. Mereka pasrah mau diukir dan dibentuk menjadi apapun tanpa perlawanan. Tak tau guru ini salah atau benar mereka akan tetap meniru.

Oleh sebab itu guru harus berhati-hati dalam bersikap. Memilih dan memilah lisan yang akan dikeluarkan. Mengawali langkah setiap menuju sekolah dengan niat baik dan dipenuhi energi positif agar bisa memberikan yang terbaik kepada generasi muda penerus bangsa. Seluruh tindak tanduk guru sang pengukir peradaban ini akan sangat mempengaruhi bagaimana bangsa ini kedepannya.

Jangan ada kekerasan terhadap murid yang akan meneruskan perjuangan ini nantinya. Karena kekerasan akan membentuk murid menjadi generasi keras yang tidak peduli dengan sesama. Baik kekerasan secara fisik maupun non fisik akan berdampak buruk pada murid. Maka bisa dibayangkan, seperti apa nanti kondisi bangsa kita kedepannya jika generasi penerusnya dipegang oleh orang-orang yang dididik dengan kekerasan.

Hari ini mereka memang berstatus sebagai murid patuh pada perintah guru. Namun beberapa tahun kedepan kendali negeri ini akan dipegang oleh mereka. Jangan sampai kita terjajah oleh generasi sendiri akibat salah didik oleh si guru sang pengukir peradaban.

Guru sebagai tokoh pengukir peradaban, buatlah ukiran yang indah dengan penuh cinta. Supaya bisa melahirkan generasi emas yang akan membawa kemaslahatan umat. Jangan paksa mereka langsung mengerti dengan apa yang kita inginkan.

Beri mereka waktu untuk mencerna pesan yang kita sampaikan. Jangan belenggu mereka dengan banyak tugas yang mencuri waktu bermain mereka. Berikan mereka ruang untuk bermain dan waktu untuk lebih mengenal lingkungan sekolahnya.

NB : Alhamdulillah, tulisan ini muat di koran Singgalang; 22 Desember 2017

Guru Sakit Gigi

Guru Sakit Gigi

Herlin Variani

Guru SDN 11 Padang Sibusuk

 

“Lebih baik sakit gigi…dari pada sakit hati…red”

Sebuah lirik lagu yang kerap kali terdengar diera 90-an dulu. Tembang yang dinyanyikan oleh seorang laki-laki ini sangat popular di zamannya. Masyarakat banyak ikut menyenandungkan lirik ini. Seolah mereka benar-benar yakin bahwa sakit gigi bukan masalah besar.

Namun diakhir tahun 2017 ini penulis baru merasakan bahwa senandung yang sering didengar di zaman SD ini sama sekali tak benar. Andai hati bisa memilih, jangan pernah sakit gigi ini singgah. Karena sakit yang dirasakan luar biasa. Sekali disapa oleh si Mister sakit gigi langsung dapat yang super. Saat proses belajar mengajar di kelas sedang berlangsung, rasa sakit luar biasa menyerang rahang bawah bagian kanan. Badan menggigil dan panas dingin. Bibirpun terasa gatal dan serasa tusuk-tusuk jarum. Rahang bawah terasa penat-penat. Mata mulai berkunang-kunang.

Karena serangan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya diputuskan meninggalkan ruangan kelas enam yang diampu saat itu sejenak. Menuju puskesmas terdekat. Setelah diperiksa, akhirnya mendapat sebuah vonis diluar dugaan dari dokter cantik nan ramah.

“Gigi terakhir ibuk tumbuh dengan posisi tidak normal. Selain posisi tidak normal, gigi bungsu ini juga sudah mengalami kerusakan. Ini sakitnya luar biasa ketimbang sakit gigi yang biasa dihadapi banyak orang. Sampai di kota Solok nanti (kebetulan penulis berdomisili di Solok), segera di bawa ke rumah sakit terdekat.” Sang dokter menjelaskan.

“Ya Rabb. Sekali kedatangan sakit gigi, dapat yang super.”

“Harus segera dilakukan operasi. Kalau tidak dia akan membuat kerusakan pada gigi di depannya.”

Ujarnya lagi sambil menuliskan resep. Walaupun penjelasan ini membuat shock, namun sebagai seorang terdidik dan berprofesi sebagai guru, penulis harus tetap tenang.

Dengan tenang, langkah kaki menuntun ke ruang belajar yang sempat ditinggalkan sejenak sembari membawa obat yang telah didapatkan dari apotik. Setelah minum obatpun rasa sakit masih menyerang dengan hebatnya. Dalam sakit gigi hatipun berkata,

“Ah, lagu lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati itu sama sekali tidak benar.”

Ingin rasanya hati bertanya padang orang-orang yang dulu sering menyanyikan lirik ini. Atas dasar apa lirik itu dinyanyikan. Bahkan dengan polosnya dulu, penulispun sempat menyanyikan lirik pendek itu.

Sakit gigi tidak ada enak-enaknya. Kalau boleh berharap, jangan pernah sakit gigi ini singgah pada diri. Selain rasa sakit luar biasa yang menyerang, makanpun sulitnya bukan main. Cacing-cacing diperut bersemangat minta jatah, namun apa daya, gigi menolak makanan lewat. Ini membuktikan bahwa sakit gigi bisa menyebabkan sakit-sakit lainnya. Bahkan bisa membuat penderitanya diserang oleh rasa sakit hati. Lagi-lagi hati bersikeras mengatakan bahwa sakit gigi tidak ada enaknya.

Namun dampak positif dari sakit gigi ini ada. Ibarat kata pepatah, segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Banyak yang mengatakan sakit gigi bisa membuat sipenderita dibelenggu kemarahan. Mendengar orang bercerita marah. Melihat ayam berkokok marah. Namun semua ini terbantahkan oleh penulis. Siswa yang tidak tau gurunya sedang sakit gigi, tetap banyak bertanya. Bahkan sedikit kenakalan anak-anak pun mereka perlihatkan. Namun demikian tak ada sedikitpun terbersit dihati ingin marah pada mereka.

Bahkan zaman tempo dulu pernah mendengar dari orang yang pernah sakit gigi juga, katanya kalau sedang sakit gigi rasanya ingin makan orang. Ini juga terbantahkan. Siswa yang keluar dari kelas semuanya utuh. Tidak ada yang tewas karena dimakan oleh siguru yang sedang sakit gigi.

Tidak ada sedikitpun keinginan untuk marah pada siswa yang sedang dihadapi. Bahkan ada yang mengajak bercanda penulispun tidak marah. Karena jauh dilubuk hati paling dalam, sebagai seorang guru tersimpan rasa cinta luar biasa kepada siswa. Rasa cinta kepada generasi muda yang diyakini akan menjadi penerus perjuangan ini dalam membangun peradaban bangsa.

Saat kita mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang, diiringi ketulusan dan keikhlasan, maka sakit gigipun tak menjadi penghalang untuk terus mentransfer ilmu pada siswa. Sakit gigi tidak enak, tapi juga bukan penghalang untuk melaksanakan tugas sebagai guru. Bukan sakit gigi yang membuat kita bahkan seorang guru mudah marah, tapi suasana hati. Sakit gigi dihadapi dengan suasana hati yang tenang tetap akan membuat semuanya adem.Tidak benar sakit gigi menjadi sumber kemarahan. Namun memang membuat sipenderita agak sedikit pendiam.

Malahan saat dicoba bercerita pelan-pelan dengan siswa, rasa sakit mulai terlupakan. Tawa renyah dan bahasa-bahasa kritis yang lahir dari lisan polos mereka membuat nyeri luar biasa perlahan reda. Tidak adil rasanya jika sakit yang kita rasakan juga menyakiti orang-orang yang ada disekitar kita. Khususnya siswa kita. Mereka semua adalah manusia yang punya hati seperti kita. Mereka layaknya mendapat curahan ilmu dan kasih sayang dari guru. Bukan sebagai tempat hempasan kemarahan.

Apa jadinya bangsa ini dikemudian hari, jika sang pendidik menjadikan alasan sakit gigi sebagai pemicu kemarahan pada siswanya. Apapun alasannya, siswa bukan untuk dimarahi apalagi dikasari. Jangan jadikan sakit gigi atau sakit-sakit yang lainnya sebagai alasan untuk melepaskan kemarahan dan kedongkolan hati sang guru kepada siswa.

Jadilah guru yang baik dan penuh cinta. Ukir siswa ini menjadi generasi berkualitas yang siap terjun dalam membangun peradaban bangsa ini menjadi bangsa yang lebih manusiawi. Cetak mereka menjadi pionir-pionir penerus perjuangan kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Agar bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan tidak terjajah lagi dalam bidang apapun.

NB : Muat di koran Singgalang, 17 Januari 2018

Dunia Super Rempong

DUNIA SUPER REMPONG

HERLIN VARIANI

Guru SDN 11 Padang Sibusuk

 

Hiruk pikuk dunia yang penuh intrik tak jarang memekakkan telinga dan menyesakkan dada. Kisruh di hati yang kadang tak dapat dihindari efek dari carut marut dunia saat ini. Dunia yang semankin hari semankin tampak aneh dan kian asing. Dalam waktu singkat seseorang  bisa saja meraih popularitas hanya karena sebuah statement tidak penting atau sebuah tindakan-tindakan aneh yang merajai media sosial.

Hari ini tidak terlalu dibutuhkan lagi kecerdasan akademis atau alasan yang bersifat ilmiah untuk menjadi terkenal dan meraih ribuan jempol di dunia super ajaib yang sedang kita jalani ini. Tidak harus punya prestasi yang membanggakan untuk dikenal. Cukup menjadi orang aneh,lalu viralkan maka nama tokoh yang berprilaku aneh ini akan tenar dalam sekejap. Walaupun tak dapat dipunkiri ketenaran yang didapat dalam sekejap juga akan raib dalam waktu sekejap.

Selain itu, dizaman yang bisa dikatakan super rempong ini, yang lebih ajaibnya lagi para komentator selalu bermunculan mengawali setiap peristiwa yang ada. Baik itu peristiwa besar yang mengguncang negeri maupun peristiwa kecil yang sebenarnya tak berarti bisa memunculkan komentator-komentator yang menghiasi layar kaca anda. Para komentator ini akan berbicara dengan lantang dan mimik wajah cerdas. Entah yang dikatakannya itu benar dan memiliki dasar keilmuan yang jelas ataupun hanya sebuah opini publik yang dibangun sesukanya, tetap pembicaraan mereka membuat insan yang memandang terpana dan terpaku. Mata menatap dengan khusuknya, tubuh tak bergerak menyaksikan sikomentator di dunia super rempong ini berbicara. Begitu luar biasanya sikomentator ini menyedot perhatian dan membius sipenonton.

Komentar yang dikeluarkan oleh mereka bisa membuat kening berkerut, hati bertanya, pikranpun berlarian. Ada juga yang tersenyum simpul karena merasa sejalan atau merasa diuntungkan oleh sikomentator yang sedang tersenyum manis saat wajahnya disorot kamera. Ada kalanya komentar yang dilontarkan menyesakkan dada dan melahirkan penolakan keras dari nurani. Namun sipendengar tak bisa berbuat apa-apa selain menggerutu dan melengus jengkel.

Seperti itulah kira-kira salah satu gambaran dari dunia super rempong yang dipenuhi oleh sikomentator super populer yang sedang kita jalani. Dalam kehidupan sehari-haripun tak jarang sikomentator menjadi penghias langkah dalam kehidupan ini. Kehadiran sikomentor dengan suara-suara yang menurutnya merdu itu cukup membuat hidup di dunia super rempong ini berwarna.

Komentar-komentar yang berseliweran dari mulut mereka tak jarang membuat semangat dan langkah sipendengar pasang surut. Riak-riak kecilpun singgah dihati ketika yang dikeluarkan dari bibir seksi mereka begitu pedas dan menohok begitu dalam. Bak anak panah meluncur dengan derasnya menemui sasaran yang mematikan. Namun sikomentator tak pernah peduli dengan efek menyakitkan yang terjadi pada korban yang terus berjatuhan akibat panah-panah beracun yang telah dikeluarkan dari lisannya. Komentar-komentar sakti terus diluncurkan tanpa peduli apakah yang mereka tebarkan itu adalah berlian yang membuat mata nyaman setiap kali memandang. Atau nasnya itu adalah sekelompok virus yang bisa mematikan individu, sebuah komunitas bahkan sebuah negeri sekalipun.

Sasaran mereka bisa siapa saja. Orang pintar atau tidak cerdas, kaya atau miskin, benar atau baik, tokoh kehidupan antagonis, protagonis, peran pembantu sekalipun bisa menjadi sasaran empuk untuk digoreng oleh para komentator diberbagai media dunia super rempong ini.

Apapun itu semuanya bisa menjadi hangat dan trending topik walaupun itu tidak penting.

Kondisi seperti ini jangan sampai melemahkan kita. Disinilah peran penting prinsip hidup yang kita pakai. Selagi prinsip itu tidak bertentangan dengan keyakinan dan agama yang kita anut serta tidak berlawanan dengan norma yang berlaku ditengah masyarakat tetaplah berjalan dengan prinsip itu. Jangan pernah berjalan sesuai arah angin. Karena itu akan menghancurkan kita. Komentar-komentar tidak jelas dari tokoh-tokoh yang menurut media hari ini keren tak perlu didengarkan apalagi sampai menjadi sandaran hidup. Kecuali jika komentar itu berdasar dan tidak bertentangan dengan syari’at kita.

Jadikan itu sebagai nasehat dan evaluasi diri sebagai wahana untuk membangun diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik, lebih kuat dan lebih tangguh dalam menghadapi pergulatan hidup di dunia super rempong ini.

Fenomena dunia super rempong yang dipenuhi komentator ini tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Dari zaman ke zaman ini sebenarnya sudah pernah terjadi. Kalau kita mau sedikit flash back ke masa lalu. Ada sebuah kisah yang sangat masyur bercerita tentang sosok pribadi super istimewa hingga namanya diabadikan menjadi sebuah nama surat dalam Al Qur’an yakni Luqman Al Hakim. Dalam sebuah riwayat dikisahkan suatu hari Luqman Al-Hakim pergi ke pasar bersama anaknya menaiki seekor keledai. Saat itu Luqman menaiki punggung keledai sementara anaknya mengikuti dibelakang sambil berjalan kaki. Melihat kejadian ini langsung sikomentator yang melihat berkomentar,

“Lihat, itu orang tua tidak kasihan pada anaknya. Dia duduk dengan enak dipunggung keledai sedangkan anaknya berjalan kaki.”

Mendengar ini, Luqman segera turun dari punggung keledai dan menaikkan anaknya dan ia sendiri berjalan kaki. Inipun menuai komentar dari komentator lainnya.

“Hai, lihat itu.Ada anak yang kurang ajar. Dian enak-enakan naik keledai orang tuanya disuruh berjalan kaki.”

Mendengar ini, Luqman akhirnya naik kepunggung keledai bersama anaknya. Ternyata hal inipun tak luput dari komentar para komentator di pasar yang menyatakan ada dua orang manusia yang tidak punya rasa kasihan terhadap binatang bahkan sangat dzolim. Keledai yang begitu kecil dianiki oleh dua orang. Namun hal ini tidak membuat Luqman marah malahan memberikan nasehat indah pada anaknya dalam perjalanan pulang tentang keusilan sikomentator yang mereka temui.

Luqman menyampaikan pada anaknya, bahwa kita tidak akan terlepas dari gunjingan dan komentar orang lain.Orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan melainkan hanya pada Allah. Barang siapa yang mendapat petunjuk kebenaran dari Allah, itulah pertimbangannya dalam mengambil keputusan.

Disini ada pelajaran besar yang bisa kita ambil. Tak perlulah larut dengan komentar dari tokoh komentator, tapi hiduplah berdasarkan prinsip yang kita yakini. Cukup Allah dan kebenaran saja yang menjadi sandaran dan landasan hidup kita.Allahu’alam bisshawab.

NB : Muat di Koran Singgalang, Senin 8 Januari 2018

Betah Dengan Kebodohan

BETAH DENGAN KEBODOHAN

HERLIN VARIANI

Guru SDN 11 Padang Sibusuk / Pembina Assalam Kota Solok

 

Takdir kerap menjadi kambing hitam saat kegagalan menghampiri manusia. Bahkan dengan alasan takdir oknum-oknum yang memang malas dan tidak mau mengembangkan potensi diri terus berleha-leha. Merasa pantas berada diposisi terbawah dalam hidup karena berasumsi itu sudah takdir. Puas sebagai orang suruhan karena percaya itu takdir. Begitu kejamnya jika seperti itu cara berpikir kita. Apa dasar pemikiran yang telah membawa kita untuk melahirkan tuduhan-tuduhan seperti itu terhadap takdir? Mempersalahkan takdir atas semua yang dialami adalah sebuah kekeliruan fatal yang tidak berdasar. Pemikiran seperti ini akan mengakibatkan kemalasan dan keputusasaan bersemi di hati yang akan menghentikan mimpi-mimpi kita serta terbentuk pribadi yang tidak akan pernah bisa maju.

Kita semua terlahir dalam keadaan yang sama. Alih-alih membawa perhiasan, harta, segudang sertifikat tanah atau ijazah kesarjanaan, saat terlahir sehelai benangpun tak menempel ditubuh saat kita. Semuanya terlahir dalam keadaan sama. Tak ada manusia yang terlahir tiba-tiba sudah menyandang status sebagai bupati, walikota, presiden, gubernur, pencopet, tukang becak, siintelek, sibodoh, sikaya, simiskin dan lain sebagainya. Semua menyandang status yang sama yakni bayi baru lahir yang belum mempunyai kekuatan apa-apa dan dalam keadaan polos. Tak ada tulisan kegagalan atau kesuksesan dikening-kening mungil mereka.

Lalu apa dasar kita mengklaim bahwa semua kegagalan atau keterbatasan pada diri adalah sebuah takdir mutlak yang tak dapat dirubah. Lupakah kita bahwa semua manusia diciptakan dengan segala keistimewaannya masing-masing. Seluruh manusia dibekali potensi hebat dalam diri masing-masing yang akan menopang kehidupannya kelak. Namun potensi ini tentunya harus diasah. Ibarat sebuah pisau yang tak pernah diasah dan digunakan maka matanya akan tumpul dan tidak memiliki kekuatan. Jangankan memotong daging, membelah daun tipispun pisau tumpul ini tidak akan mampu melakukannya dengan baik.

Begitupun dengan manusia. Manusia terlahir dalam keadaan tidak membawa apapun. Namun sejak lahir walaupun dengan tubuh mungil sudah terlihat kecerdasan yang dianugrahkan Sang Pencipta terhadap sibayi mungil ini. Kita bisa melihat bagaimana sibayi berusaha menutup mata saat ada pancaran cahaya kuat yang datang mengganggu penglihatannya. Suara tangisan isyarat ketidaknyamanan atau penolakan situasi yang tidak diinginkan. Ini memperlihatkan bahwa kita terlahir dengan potensi luar biasa. Bahkan saat fase bayi beranjak menuju fase anak-anak, kecerdasan itu kian tampak dan terus berkembang. Kecerdasan ini tidak akan bertahan apalagi berkembang bahkan bisa hilang jika tidak diasah dengan tekun. Tidak mau mengasah potensi diri dan bersikap masa bodoh akan menemui nasib seperti pisau tumpul yang tak mampu berbuat apa-apa yang hanya akan menjadi objek penderita.

Orang yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna sekalipun akan memiliki kemampuan luar biasa dan menjadi pribadi istimewa yang menyorot perhatian dunia ketika ia mau mengupgrade potensi dirinya. Tidak sedikit realita yang terlihat, mereka yang terlahir tidak sempurna bisa memanfaatkan ketidak sempurnaannya untuk menjalani aktifitas hidupnya dengan kreatif. Bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak mengharap belas kasihan orang lain. Bahkan ada yang menjadi motivator internasional dan mengukir prestasi-prestasi hebat yang kadang tak dapat diraih oleh manusia yang terlahir sempurna. Ini menunjukkan semua manusia yang terlahir ke dunia punya kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi istimewa yang mampu membuat hidupnya jauh lebih berarti. Punya peluang untuk menjadi pribadi hebat bahkan bukan tidak munkin bisa memiliki peranan penting sebagai pemegang kendali di negeri ini.

Namun demikian itu semua hanya akan menjadi hayalan belaka  jika pikiran selalu dipenuhi energi negatif dan pesimisme. Malas berusaha dan tidak tampak ikhtiar yang serius dalam melejitkan potensi diri. Memiliki keyakinan bahwa diri kita yang paling benar dengan pemikiran yang salah serta banyak alasan dan penolakan untuk mengupgrade diri hanya akan memperburuk keadaan dan bisa membuat kita menjadi orang yang tidak berguna. Sibuk merutuki nasib dan menyalahkan keadaan itu akan membuat hidup mankin terpuruk.

Berpendapat bahwa orang lain pantas mendapatkan kesuksesan karena mereka punya kesempatan dan peluang emas untuk itu, sedangkan kita merasa tidak munkin karena kesempatan tidak ada. Merasa orang lain bisa karena dia punya waktu luang, tidak punya kesibukan dan lain sebagainya. Sedangkan kita merasa tidak munkin karena merasa paling sibuk dengan aktifitas-aktifitas pribadi, kemampuan standar, sudah mustahil rasanya untuk belajar dan berlatih karena bukan waktunya lagi. Karena berpikiran apapun yang dilakukan tetap tidak akan ada hasilnya. Ketahuilah ini merupakan sikap diri yang betah dalam kebodohan serta nyaman dalam kebodohan tersebut.

Pemikiran keliru ini bukan prestasi yang pantas untuk dibanggakan apalagi dipublikasikan pada orang banyak. Sikap betah dalam kebodohan seperti ini hanya akan membuat perjalanan hidup berada pada titik stagnan. Betah dalam kebodohan akan membuat seseorang terancam didera oleh kemiskinan. Jika sudah jatuh dalam kemiskinan maka kefuturanpun akan mengintai setiap saat. Pikiran-pikiran keliru ini juga akan mengancam eksistensi kehidupan kita.

Oleh sebab itu perlu perbaikan mindset agar diri tidak bertahan dalam kebodohan dan segera bangkit untuk membangun mimpi-mimpi yang pernah diukir sejak usia belia dulu. Musnahkan ribuan alasan yang sempat singgah dipikiran dan diluncurkan melalui lisan yang hanya akan mendukung kebertahanan dalam kebodohan. Saatnya bangkit dan mengupgrade diri serta buka lembaran baru untuk memulai cita-cita baru. Teruslah meniti jalan menuju kesuksesan walaupun akan menghadapi pahitnya ujian dan rintangan. Jadikan tantangan demi tantangan yang hadir silih berganti sebagai penyemangat, penguat dan ujian ketangguhan diri. Jangan biarkan rintangan yang menyapa melemahkan semangat dan harapan kita. Selagi kita memiliki mimpi dan harapan serta itikad kuat untuk mewujudkan harapan itu maka sesuatu yang tidak munkin akan bisa terwujud.

Dalam Al Qur’an pun Allah memberikan pesan cinta sekaligus peringatan pada kita, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” .(Q.S. Ar-Ra’d;11). Mari berusaha dan melompat lebih tinggi. Manjadda wajada. Dimana ada kemauan disana ada jalan. Jangan menggantungkan hidup pada takdir. Kita bisa jika kita mau. Maksimalkan usaha dan do’a hasilnya serahkan pada Yang Maha Kuasa. Saat usaha dan do’a telah maksimal, apapun hasilnya baru itu bisa dikatakan takdir dan kita terima dengan lapang dada. Wallahu’alam bisawwab.

NB : Terbit di koran Singgalang, 20 Januari 2018